Jumat, 13 April 2018

Cara-cara menghidangkan makanan dalam berbagai keperluan

Penyajian makanan memiliki peran penting dalam menjaga nafsu makan agar tetap baik. Penyajian makanan merupakan salah satu prinsip dari hygiene dan sanitasi makanan. Penyajian makanan yang kurang baik dan etis, bukan saja mengurangi selera makan seseorang namun juga dapat menjadi penyebab kontaminasi bakteri pada makanan.

Tata Hidang

Tata hidang merupakan bagian dari Food and Beverage Departement. Fungsi utama dari tata hidang adalah untuk memberikan layanan makanan dan minuman. Termasuk di dalamnya terdapat berbagai point penting seperti mengatur meja makan, alas meja makan, atau bisa disebut table set up.

Dalam konteks tata hidang juga terdapat suatu bab yang tidak kalah penting, yaitu kegiatan menutup meja. Menutup meja adalah kegiatan menata hidangan yang siap disajikan beserta peralatan makan di atas meja makan atau meja hidang dengan maksud antara lain sebagai berikut.
  1. Menambah nafsu dan selera makan.
  2. Menanamkan tata cara makan yang baik kepada keluarga, terutama anak-anak.
  3. Menambah kenyamanan dan kenikmatan dalam menyantap hidangan.
  4. Mempermudah pengambilan hidangan.
  5. Meningkatkan efisiensi kerja.
  6. Memberikan kesan indah.
Di dalam hal menutup meja, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
  1. Ruangan
  2. Perabot
  3. Lenan
  4. Perlengkapan meja
  5. Silver ware
  6. Hidangan
  7. Suasana
Pemakaian Alat Hidang yang Bersih dan Serasi

A. Kebersihan dalam menghidangkan makan

Fungsi ini dilaksanakan oleh bagian kebersihan atau pencucian alat (stewading) di tempat/lokasi pencucian yang meliputi :
  1. Pencucian peralatan hidangan.
  2. Pemeliharaan peralatan hidangan berupa penyimpanan, perbaikan, serta pengadannya.
Yang tak kalah penting dalam penyajian makanan adalah kebersihan penyaji, kebersihan tempat, juga kebersihan hidangannya. Kebersihan penyaji berarti saat menyajikan ia harus selalu rapi dan tangannya selalu dalam keadaan bersih, karena ia akan melakukan kontak langsung dengan hidangan dan menjaga makanan dari pencemaran. Makanan yang tercemar dan tidak bersih bisa jadi mengandung bahan-bahan berbahaya atau kuman yang dapat menimbulkan penyakit seperti kolera, tifoid, keracunan, hepatitis A, dan sebagainya.

Pencemaran makanan dibagi menjadi dua, yaitu disebabkan oleh kuman dan disebabkan oleh bahan asing.

» Kuman

Kuman dapat ditemukan pada bahan mentah, sisa makanan, habuk, binatang-binatang, burung, tikus, serangga, lalat, dan manusia.

Contoh penyakit :
  1. Keracunan makanan
  2. Tifoid (demam)
  3. Kolera
  4. Disentri
Pencegahan pencemaran oleh kuman ini adalah dengan cara meminimalisir kontak beberapa hal di atas dengan makanan. Misalnya dengan cara menutup makanan untuk mencegah tikus, lalat, dan serangga hinggap ke makanan.

» Bahan asing

Bahan asing yang dimaksud adalah bahan kimia, asap rokok, benda benda tajam, dan lain-lain. Berikut ini adalah beberapa penyebab terjadinya pencemaran makanan karena bahan asing, yaitu sebagai berikut.
  1. Menggunakan bahan yang masih mentah dan mudah tercemar.
  2. Pengolahan makanan dan penyajian makanan dengan cara yang tidak bersih.
  3. Menghidangkan makanan dengan peralatan yang tidak hygiene.
  4. Penyimpanan makanan yang kurang baik.
B. Pemakaian Alat Hidang yang Serasi

Contoh alat hidang yang serasi adalah :
  1. Piring oval digunakan untuk menyajikan makanan yang asin.
  2. Piring datar digunakan untuk menyajikan jenis makanan yang manis.
  3. Mangkuk/basi tertutup digunakan untuk menyajikan sayur yang berkuah.
  4. Piring datar digunakan untuk menghidangkan lauk pepes.
  5. Piring datar dan pisau digunakan untuk menyajikan kue tart.
Namun dalam penyajian sehari-hari, bisa menggunakan taplak meja yang warnanya sesuai dengan ruang makan dan perangkat makan itu sendiri.

C. Penataan Meja di Berbagai Waktu dan Tempat

» Untuk sarapan

Peralatan yang diperlukan :
  1. Alas meja bercorak dan serasi.
  2. Vas bunga segar.
  3. Dinding dihiasi gambar bunga, buah, dsb.
  4. Piring cekung, sendok, garpu, tempat cuci tangan, dan serbet.
Cara mengatur :
  1. Alas meja dipasang rapi.
  2. Piring diletakkan di tepi meja tepat di depan setiap kursi dengan jarak dari tepi meja sekitar 2 cm dalam keadaan terbuka.
  3. Sendok dan garpu diletakkan di sebelah kanan dan kiri masing-masing piring.
  4. Pisau makan di sebelah kanan sendok atau di atas piring.
  5. Tempat cuci tangan juga diletakkan di sebelah kanan sendok makan.
  6. Gelas minum diletakkan di depan sendok atau di sebelah tempat cuci tangan.
  7. Serbet makan dilipat rapi dan diletakkan di sebelah kiri atau di atas piring.
Baca juga : Cara-cara menanak nasi secara tradisioanal dan secara khusus
» Untuk makan siang dan makan malam

Peralatan yang diperlukan :
  1. Alas meja berwarna putih.
  2. Peralatan sama dengan perlatan untuk sarapan.
Cara mengatur :
  1. Meja makan ditutup dengan taplak meja berwana.
  2. Alat makan untuk perorangan diatur di depan tiap kursi, seperti halnya pengaturan untuk sarapan.
  3. Hidangan diatur di atas meja lengkap dengan alat untuk mengambil hidangan.
  4. Buah dan bunga diletakkan di sudut meja makan.
» Tips menghidangkan makanan untuk lesehan.
  1. Ruang makan bersih.
  2. Tikar dalam keadaan bersih.
  3. Taplak di tengah tikar tempat meletakkan hidangan.
  4. Taruh serbet di atas taplak, lalu tempat wijikan diletakkan di sebelah kanan.
  5. Sayur disajikan dalam basi cekung atau basi tertutup.
  6. Lauk pauk yang serupa disusun berdekatan.
  7. Tempat nasi berada di sebelah kanan.
  8. Dekat lauk pauk disediakan garpu dan sendok untuk mengambilnya.
  9. Teko berada di sebelah kiri piring makan.
  10. Karangan bunga diletakkan di salah satu sudut tikar.
  11. Buah pisang disajikan dengan pisau berada di sampingnya.
» Pengaturan meja makan di balai-balai rendah
  1. Alas meja dibentangkan di atas balai-balai.
  2. Lauk diatur ditengah, sedangkan piring diatur berkeliling di pinggir.
  3. Boleh memakai sendok ataupun dengan tangan.
  4. Tiap orang disediakan 1 wijikan dan 1 serbet.
  5. Diberi hiasan bunga/vas bunga.
D. Tempat Hidang yang Menarik

Supaya penyajian makanan terlihat menarik, maka diperlukan perlengkapan meja seperti molton, taplak meja, dan serbet.

» Molton

Molton yaitu kain wol yang digunakan sebagai alas meja sebelum taplak dibentangkan. Kegunaannya yaitu untuk melindungi meja dari panas, sebagai perdem bunyi, serta melindungi pergelangan agar tidak terkantuk pinggiran meja.

» Taplak Meja

Syarat :
  1. Permukaan licin.
  2. Bentuk menyesuaikan bentuk meja.
  3. Bersih dan utuh.
  4. Dapat menutup sampai kaki meja (prasmanan).
Penggunaan taplak meja :
  1. Digunakan pada pengaturan makanan untuk sarapan, yaitu taplak bermotif bunga kecil/garis yang berwarna muda.
  2. Digunakan pada pengaturan makanan untuk makan siang dan makan malam, yaitu taplak meja berwarna putih.
  3. Digunakan untuk mengatur meja prasmanan.
  4. Untuk menutup meja saat acara minum teh.
Ukuran-ukuran taplak meja :
  1. Formal table cloth : ± 16 sampai 24 inchi (40 - 60 cm) melebihi tepi meja.
  2. Informal table cloth :  ± 10 sampai 14 inchi (22,5 - 35 cm) melebihi tepi meja.
  3. Place mat atau table mat panjang.
Read More

Kamis, 12 April 2018

Macam-macam cara menanak nasi dan tumpeng

Nasi merupakan sumber energi yang mengandung karbohidrat tinggi dan menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Meski begitu, masih banyak orang di negara kita khususnya kaum wanita yang belum bisa memasak nasi atau beras dengan baik. Sebelum menanak, kenali jenis beras. Beras yang sudah lama akan terlihat kusam dan perlu takaran air lebih banyak. Sedangkan beras yang masih baru akan terlihat cerah dan bersih serta tidak membutuhkan air yang terlalu banyak.

Jika ingin memasak dengan cara dikukus, buatlah adonan nasi terlebih dahulu. Kemudian masak nasi dengan air secukupnya hingga matang dan dilanjutkan dengan pengukusan. Jika ingin memasak dengan rice cooker, tambahkan air sesuai petunjuk atau 2 cm diatas permukaan beras. Sebagai pengharum, anda bisa tambahkan 1 lembar daun pandan.

Dalam kasus ini saya akan berbagi beberapa cara menanak nasi yang sering dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, antara lain sebagai berikut :

Cara Tradisional atau Biasa

a. Dikukus

Langkah-langkah :
  1. Pilih beras yang masih baru dan berkualitas baik. Ciri-cirinya yaitu putih, bersih, wangi, serta panjang dan utuh.
  2. Cuci panci untuk menanak nasi sampai benar-benar bersih dan tidak lengket.
  3. Cuci beras yang akan dimasak sampai air bekas cucian terlihat jernih.
  4. Tambahkan agar-agar putih secukupnya agar lebih pulen.
  5. Masukan daun pandan secukupnya.
  6. Percikkan air jeruk secukupnya ke tempat menanak.
  7. Tambahkan air kira kira 2 cm diatas permukaan beras.
  8. Gunakan api sedang dan kecilkan jika airnya sudah surut. Selanjutnya beras yang sudah jadi setengah nasi diaduk-aduk, lalu tutup kembali.
  9. Masak lagi beberapa saat lalu angkat.
  10. Panaskan air di langesng atau dandang kurang lebih 1/8 ukuran wadah.
  11. Setelah air mendidih, masukan beras setengah nasi tadi ke dalam dandang. Kukus hingga beras benar-benar menjadi nasi.
  12. Angkat dan masukan nasi ke dalam ceting sambil diaduk-aduk hingga pulen.
Kelebihan dengan cara dikukus :
  1. Nasi dapat kering dan butiran nasi masih terlihat.
  2. Kecilnya kemungkinan untuk hangus.
  3. Tidak ada kerak.
Kelemahan dengan cara dikukus :
  1. Waktu memasak lebih lama.
  2. Bahan dan alat dalam memasak lebih banyak.
b. Diliwet

Langkah-langkah :
  1. Cuci beras sampai bersih.
  2. Siapkan panci dan jerangkan.
  3. Masukan beras ke dalam panci.
  4. Masak dengan api sedang selama ½ jam.
Perbandingan air dan beras :
  1. Nasi lunak : 2 : 1
  2. Nasi sedang : 2 : 1,5
  3. Nasi keras : 1 : 1
Kelebihan :
  1. Zat makanan tidak hilang.
  2. Waktu memasak relatif singkat.
  3. Memerlukan lebih sedikit bahan bakar untuk memasak.
Kelemahan :
  1. Dapat berkerak.
  2. Harus memakai panci yang tebal.
  3. Harus dimasak dalam air mendidih.
  4. Harus sering diaduk supaya kerak yang diihasilkan tidak terlalu tebal.
  5. Kalau nasi hendak setengah matang, api harus segera dikecilkan.
c. Ditim

Langkah-langkah :
  1. Cuci beras sampai bersih.
  2. Masukan beras ke dalam panci kecil, kemudian masukan ke dalam panci besar yang berair.
  3. Jerangkan selama 1 jam sampai masak.
Perbandingan beras dan air = 1 : 4

Hal yang perlu diperhatikan :
  1. Panci harus selalu ditutup rapat.
  2. Air harus setinggi dengan beras yang ada dalam panci lain.
Menggunakan Teknik Khusus

Di berbagai daerah di Indonesia misalnya Jawa banyak kita temui kenduri-kenduri dari yang kecil sampai yang besar, seperti perkawinan, pindahan rumah, mitoni, hari kelahiran, ulang tahun, dan khitanan. Sebab itu dalam kebudayaan Jawa penyajian hidangan makan sangat dijunjung tinggi. Jadi penyajian hidangan, terutama untuk nasi harus berbeda dengan penyajian dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini teknik memasak nasi secara khusus yang saya maksud adalah dengan cara memasak nasi tumpeng.

Tumpeng yaitu sajian nasi yang dibentuk kerucut dengan aneka lauk pauk yang diletakan dalam tampah atau nampan yang besar. Tumpeng merupakan tradisi sajian dalam berbagai kegiatan upacara, baik itu untuk suasana kesedihan maupun kegembiraan. Tumpeng dalam ritual Jawa terdiri dari jenis yang bermacam-macam, antara lain tumpeng megono, robyong, sangga langit, dan arga dumilah.

Makna dari pembuatan tumpeng adanya pengakuan penguasa yang lebih besar dari manusia yaitu Tuhan. Wujud tersebut berwujud sikap menyembah kepada Sang Kuasa dengan penuh rasa syukur, pengharapan, dan do’a. Oleh sebab itu masyarakat Jawa sangat meyakini bahwa nasi tumpeng merupakan bentuk syukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada mereka, serta sebagai pengingat bahwa rezeki dan kebahagiaan berada dalam kekuasan -Nya.

Berikut ini adalah jenis-jenis tumpeng yang ada di Jawa :

a. Tumpeng Robyong

Tumpeng robyong merupakan simbol keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai gunung melambangkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk robyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang.

Penyajian :
  1. Disajikan bersama dengan jajanan pasar berupa kue mangkok, pala pendem (ubi, kacang tanah, singkong, talas). Kue mangkok melambangkan kedewasaan, sedangkan pala pendem melambangkan bila pandai atau kaya kita tidak perlu pamer.
  2. Bubur merah dan putih.
  3. Pelita yang melambangkan harapan semoga hidupnya selalu mendapat bimbingan Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Intuk-intuk yang terdiri dari nasi yang berbentuk kerucut kecil di atasnya ditusuk sujen berisi telur, bawang merah, dan lombok merah. Hal ini melambangkan kebulatan menuju yang satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Kembang telan atau bunga tiga rupa yaitu mawar, kantil, dan kenanga.
  6. Pisang setangkap atau sepasang, terdiri atas dua sisir pisang, keduanya dipasang berlawanan arah.
  7. Sayur lodeh keluwih.
Rangkaian hidangan tumpeng robyong terkadang berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan daerah masing-masing. Namun tumpeng robyong mempunyai tujuan yang sama, yaitu pesan dan nasihat.

b. Tumpeng kuning

Tumpeng kuning banyak dihidangkan pada upacara pernikahan dan ulang tahun untuk lauk pauk. Tumpeng ini terdiri dari perkedel kecil-kecil, siwiran ayam goreng, sambal goreng basa, abon, telur dadar, sambal goreng kering. Sedangkan hiasannya terdiri dari daun kemangi, tomat, mentimun, dan lain-lain.

c. Tumpeng putih

Biasa digunakan untuk acara sakral karena warna putih melambangkan kesucian. Pada umumnya tumpeng putih tidak memakai ayam goreng, tetapi ayam ingkung dan bumbu aren. Tumpeng putih juga memakai tambahan seperti tahu, tembe bacem, dan ikan asin.

d. Tumpeng megono

1) Tumpeng megono Jawa Tengah

Lauk pauk tumpeng megono Jawa Tengah pada bagian dalam berisi urapan, irisan sayuran, dan bumbu. Nasi dan lauknya disusun berlapis dan biasa disajikan pada waktu selamatan weton yaitu peringatan 35 hari kelahiran seseorang.

2) Tumpeng megono Jawa Barat

Nasi dan lauk pauk tumpeng megono disusun berlapis-lapis di bagian dalam. Terdiri atas opor dan sayuran rebus seperti kentang, buncis, kacang panjang, telur rebus, dan kacang goreng. Tumpeng ini juga dilengkapi dengan beberapa makanan ringan yaitu berondong, jipan, rengginang, dan kembang goyang. Biasanya dihidangkan pada acara pindahan rumah.

e. Tumpeng tujuh bulan

Nama lain tumpeng ini adalah tumpeng mitoni yang berbentuk kerucut besar dan enam tumpeng kerucut kecil yang ditutup daun pisang. Tumpeng ini melambangkan kehamilan yang sudah menempuh waktu 6 bulan. Pantangan untuk tumpeng mitoni adalah penyertaan lauk pauk hewani, hal ini melambangkan harapan orang tua agar kelak anaknya memiliki pribadi yang kuat dan sayang terhadap sesama. Lauk yang biasa menghiasi tumpeng ini antara lain urapan, tahu, tempe, perkedel, rempeyek kacang, serta dilengkapi dengan rujak cacah yang terdiri dari 7 macam buah.

f. Tumpeng brokohan

Disajikan untuk menyambut suatu kelahiran si jabang bayi. Jika bayi perempuan, tumpeng berisi sayuran yang disusun menyerupai bunga. Sedangkan untuk bayi laki-laki sayuran disusun menyerupai bentuk burung.

g. Tumpeng seremonial atau tumpeng modifikasi

Tumpeng ini disebut juga dengan tumpeng suka-suka karena tidak mementingkan filosofi dan kearifan budaya daerah manapun. Biasanya memakai nasi kuning, nasi goreng, atau yang lain. Sedangkan untuk lauk pauk disesuaikan dengan selera pembuatnya. Dengan kata lain, tumpeng ini merupakan hasil masakan yang semata-mata untuk wisata kuliner saja tanpa mengandung makan apapun.
Read More

Rabu, 11 April 2018

Teks Deskripsi Bahasa Jawa

Kabeh babagan nang ndunya mesti bisa diterangaken kanthi rinci, bisa kang pangerten, asal mula, ciri-ciri, lan jenis-jenise. Kabeh mau kuwi bangeting kanggo mangerti marang sawijining bab lan nyegah pemikiran sing salah kaprah marang bab kasebat. Nah kanggo nerangaken sesuatu kanthi rinci, kita sampun sering sanget mireng tentang teks deskripsi. Apa sebenere teks deskripsi kuwi?

A. Pengertian Teks Deskripsi

Teks deskripsi yakuwe sawijining teks utawa tulisan sing nggambaraken sawijining objek. Objek sing kemaksud bisa wujud benda, panggonan, makhluk hidup, lan liya-liyane. Neng teks kiye anggone nggambaraken objek sing kemaksud kanthi rinci supaya wong sing maca tulisan mau kaya-kaya ndeleng dhewek objek sing digambaraken senajan dheweke ora weruh secara langsung.

B. Jenising Teks Deskripsi

1. Teks deskripsi barang utawa benda

Teks deskripsi kiye nggambaraken sawijininng barang marang pembaca kanthi cetha lan rinci, supaya pembaca utawa pamireng saged weruh gambaran barang kasebat.

Tuladha :

"Mendoan kuwe panganan asli sekang Kabupaten Banyumas. Mendoan kuwe panganan sing bahan dasare sekang tempe lan digoreng setengah mateng. Umume mendoan digawe sekang tempe, tepung terigu, muncang, lan uyah, namung ing jaman saiki wis akeh variasi bahan kanggo mendoan kuwi, diantarane yakuwe lombok, keju, kecap, lan saos. Mendoan biasane ndhuweni wujud segi empat, tipis, lan teksture empuk. Ing masyarakat Banyumas, mendoan seringe disajikna pas esuk-esuk uga dibatiri kaliyan sambel, kopi, teh, utawa kanggo lawuh sarapan. Saiki mendoan wis terkenal nang seluruh Indonesia lan produksine wis nyebar nang Provinsi Jawa Tengah."

2. Teks deskripsi kahanan

Teks deskripsi kiye nggambaraken sawijininng kahanan utawa swasana suatu panggonan utawa barang. Tujuane kanggo ndamel pembaca utawa pamireng ndhuwe gambaran kahanan sing dimaksudna penulis teks.

Tuladha :

"Nek wayah esuk, akeh ibu-ibu sing pada antri nang warunge bu Robingah arep pada tuku mendoan, niwo, tahu brontak, lan gorengan liyane. Kawit bar sholat subuh, ibu-ibu kuwe wis pada mulai teka lan suwe-suwe bisa nganthi wong limolas sing ngantri. Senanjan antrine suwe, kabehan tetep pada sabar lan nyambi dopokan kanggo ngisi swasana. Biasane para pelannggane bu Robingah mulai sepi pas jam pituan. Bar kuwe dheweke gari ngurusi kebutuhan keluarga lan ngurusi umahe lan anak-anake."

3. Teks deskripsi proses

Teks deskripsi proses yakuwe nggambaraken proses utawa urut-uratane nggawe sawijining produk, misale resep masakan, cara nganggo barang, dsb.

Tuladha :

"....cara gawe sriping gedhang kuwe gampang. Pertama-tama gedhang diceti nagnti bersih. Bar kue dikumbah neng banyu bersih supaya ilang getaeh. Gedhang diiris dhawa-dhawa tipis menaawa langsung diceti nang ndhuwur wajan sing wis ana minyak panase. Goreng nganti warnane berubah dadi kecokelat-cokelatan. Terakhir entas sriping sing wis mateng karo sorok lan didelah ing toples. Sriping gedhang siap disajikna."

4. Teks deskripsi sipat

Teks deskripsi sipat yakuwe teks kang nggambarake babagan tentang sifat sawijining barang utawa wong.

Tuladha :

"Kabeh gorengan garing utawa kemriyik kayata kripik, sriping, krupuk, peyek, lan sapanunggalane kuwe ndhuweni sipat sing ora tahan lama. Maksude daya simpene ora suwe, gamapang mlempem, apek, lan liya-liyane. Senajan wis dilebokna plastik utawa toples sing kenceng tetep bae bisa mlempem lan mambu tengik."

C. Ciri-Cirine Paragraf Deskripsi
  1. Nerangaken objek kanthi langsung miturut panemune sing diweruhi.
  2. Adhedhasar kang observasi utawa pengamatan.
  3. Ndhuweni gagasan marang sing maca kanthi cara ngelih objek sing diweruhi pengarang.
  4. Ndhuweni sipat imajinasi (imajinasi namung dasare fakta) utawa penggambaran.
  5. Ndhuweni tujuan nyiptakaken imajinasi sing maca, saengga sing maca kerasa kaya weruh dhewek bab sing dideskripsikna kuwe mau.
D. Urut-Urutane Nggawe Paragraf Deskripsi
  1. Nemtokake tema sing arep dibahas.
  2. Tujuan penulisan sing arep disampekna marang pembaca.
  3. Ngumpulake materi.
  4. Barange utawa materine dipriksa, dimirengaken, lan dirasaken.
  5. Nggawe kerangka deskripsi kang adhedhasar materi kasebat.
  6. Nulis karangan kanthi lengkang lan ora nana sing kececer.
Read More

Teknik-Teknik Dadi Pranatacara lan Tembung-Tembung Endah Sing Jarang Dienggo

Pranatacara yakuwe wong sing nglantaraken, mandu, utawa ngendalikaken mlakune sawijining adicara. Pranatacara utawa MC sing apik mesthi bakal nglantaraken adicara kuwi mau kanthi apik uga. Ukurane apik kasebat yakuwe mlakuning adicara tansah tepat waktu utawa ora molor, lan sesuai karo rencana lan apa sing dikarepaken.

Nah mulane dadi pranatacara sing apik pancen ora gampang, ana bab-bab sing perlu dingerteni lan disinauni sakcara khusus sing kabeh mau bisa didadekaken modal dasar, diantarane :

A. Swara

Ing babagan dadi pranatacara swara dadi modal utama, amarga swara arupa piranti utawa media kanggo nganakaken komunikasi karo para rawuh ing suatu acara. Tiyang kakung lan tiyang estri nduweni jenis suara kang bedha-bedha. Tiyang kakung (lanang) apike ngucap kanti rosa, abot, mantep, lan ndhuweni kesan berwibawa. Banjur tiyang estri apike ngucap kanthi volume sing wajar, ora digawe-gawe, lan jumbuh karo acara sing diayahi.

B. Penampilan

Dadi pranatacara kudu bisa nggatekaken penampilan lan suasaning acara. Penampilan kang dimaksud yakuwe tindhak-tandhuke, mimik, busana, ekspresi, lan nada irama suara kang diucapaken. Pranatacara nailka tampil kudu bisa nampilaken pesonane utawa daya tarike sing gawe para rawuh kami tenggengen. Mulane prantacara kudu tansah nggawe kesengseme para rawuh, kanthi cara :
Cara ucap ingkang apik tur leres (tata bahasane kudu bener). Penampilane kudu trep lan sinambung karo babagan kang wonten ing acara. Kasarasian busana karo acara sing dilantaraken.

C. Kondisi utawa Suasana

1. Persiapan

Persiapan kanggo pranatacara wigati banger, amarga tanpa persiapan kang mateng, mlakuning acara bakalan bisa gagal total. Sebabe kuwe persiapan sakdurunge acara pun penting sanget, antarane yakuwe :
  • Penampilan pranatacara utawa MC ne kuwe dhewek.
  • Rerantaman lan wujude acara.
  • Ngenal lingkungan acara, yakuwe panggonan-panggonan papan kang penting kanggo nyuksesna mlakuning acara.
  • Ngatur utawa nata sound system, mic, speaker, lan lya-liyane.
  • Ngatur para petugas lan paraga sing arep tampil.
2. Ketenangan

Pranatacara luwih apik rawuh ing papan panggonan acara 1 jam sakdurunge acaranipun dimulai, amargi dadi pranatacara kudu bisa ngatur ketenangan dheweke supaya kasilipun lancar ing pelaksanaane acara menika. Babagan kiye dimaksudaken kanggo mbiyantu dheweke ngatur ambekan, konsentrasi, lan uga kanggo mengkoordinasi karo panitia penyelenggara.

3. Disiplin

Prantacara kudu tansah standbay nang papan panggonane, amargi mbok menawa ana owah-owahan utawa kejadian sing ora diduga-duga, dheweke bakal gampang anggone ngatasi. Dadi prantacara ora bisa sekarepe dhewek, kudu manut karo panitia lan rencana-rencana kang sampun didamel sadurunge. Iku sebabe pembawa acara utawa MC kudu rawuh nggasiki para tamu lan uga ngerini para tamu yen acarane wis rampung.

D. Teknik

Teknik maca teks prantacara ingkang apik yakuwe :
Intonasi utawa irama sing diucapaken utaw adibentuk jumbuh karo gayane MC nalika lagi matur.
  • Pranatacara kudu bisa ngrubah nada lan irama swarane kang jumbuh karo acara sing dilantaraken. Supaya ngolehi irama kang apik ngesanaken, gathekaken kanthi teliti tanda waca neng sajroning ukara titik, koma, lan munggah mudhune nada.
  • Kudu bisa ngatur nafas seapik mungkin, supaya pas matur apa sing diwaca mboten kepedot-pedot, lan uga saged keprungu kanthi cetha.
  • Lafal kang diucapake pranatacara prayogane sempurna lan cetha nalika ngucapaken wanda, tetembungan, lan ukara. Tuladhane aksara desis : s, z. Aksara urip : a, i, u, e, o. Lan Aksara irung : ng, lan sapanunggalane.
  • Redaksi utawa reroncening ukara sing sederhana, singkat, cetha, amarga ukara sing dawa lan mencla mencle marekaken bosen kanggo para pamirenge.
E. Gladhen

Supaya dadi pranatacara sing apik pancen mbutuhaken wektu kanggo sinau lan gladhen. Utamane sinau maca seru kang disuarakan. Bab kiye banget pentinge kanggo nguataken lan nglemesaken otot-otot gulu. Kejaba kuwe kudu asring nggolet pengalaman kanthi cara praktek utawa ndeleng penampilan pranatacara sing wis senior utawa profesional.

Selain teknik-teknik maca teks pranatacara ing ndhuwur, wonten malih babagan tentang kepribe gole maca sing becik, panguwasaan basa, lan ukara-ukara sing biasane ana neng sajroning teks prantacara.

Ukara-ukara sing ana neng sajroning teks pranatacara kuwi jarang dienggo neng pasrawungan sedina-dina, lan biasane kaprungu endah lan nengsemaken. Ukara-ukara kuwi mau akeh sing kadhapuk sekang tembung-tembung rinengga utawi tembung-tembung kang alus lan endah. Tembung-tembung mau kayata tembung kawi, tembung yogaswara, tembung entar, rura basa, lan panyandra/pepindha.

1. Tembung Kawi

Tembung kawi yakuwe basa sing dienggo nalika jaman gemiyen (jaman kerajaan). Nanging neng jaman saiki wis jarang keprungu senajan esih ana sing esih dienggo neng pranatacara.

Tuladha :
  • Kartika (bintang).
  • Candra/sasadra (bulan).
  • Tirta/warih (banyu/air).
  • Samodra/jaladri (segara).
  • Kresna (ireng/hitam).
  • Netra (mripat/mata).
  • Rekta (abang/merah).
  • Mustaka (sirah/kepala).
  • Bantala (bumi).
  • Jenar (kuning).
2. Tembung Yogaswara

Tembung gogaswara yakuwe tembung loro sing meh padha penulisane lan pengucapane, mung beda wanda wekasan nganggo “a” lan “i” sing biasane ateges lanang lan wadon.

Tuladha :
  • Dewa-dewi.
  • Widadara-widadari.
  • Siswa-siswi.
  • Putra-putri.
  • Raseksa-raseksi.
  • Pemudha-pemudhi.
  • Yaksa-yeksi.
  • Apsara-apsari.
  • Prameswara-prameswari.
  • Bathara-bathari.
3. Tembung Entar

Tembung entar yakuwe tembung sing ora kena ditegesaken sawantaeh utawa apa anane, amarga ndhuweni teges sing beda. Neng basa Indonesia diarani kata kiasan.

Tuladha :
  • “Jembar segarane” tegese sugih ngapura
  • “Atine metu wulune” tegese atine ala, kelakuane ora apik, senenge gawe cilaka.
  • “Manis eseme” tegese ngresepaken, nyenenganken.
  • “Pecah nalare” tegese wis bisa mikir sing becik.
  • “Tipis lambene” tegese sugih ngomong, seneng ngrasani utawa nggosip.
  • “Enteng tangane” tegese seneng tetulung.
  • “Dhawa tangane” tegese seneng njiot nggone wong utawa seneng nyolong.
  • “Gedhe siraeh” tegese angel diomongi, ngeyel.
4. Rura basa

Tembung rura basa yakuwe tembung sing wis rusak utawa tembung sing kadung salah kaprah lan tembung sing wis ora bisa dibeneraken maning, amargi nek tetep meksa dibeneraken malah dadi basa sing ora umum lan malah keprungunipun aneh menawa ora biasa digunakaken.

Tuladha :
  • Adang sega.
  • Nutu gethuk.
  • Nguleg sambel.
  • Mbunteli tempe.
  • Nggodhog wedhang.
  • Njarumi celana.
  • Nggawe klambi.
  • Nggoreng emping.
  • Nggawe lemari.
  • Nggawe lawang.
  • Nggawe umah.
  • Menek klapa.
  • Nandhur gedhang.
5. Panyandra utawa Pepindhan

Panyandra utawa pepindha asale saka tembung candra lan pindha sing artine unen-unen gumathok kanggo nyandra perangane awak, solah bawa, lan kahanan adhapur pepindhan. Panyandra utawa pepindhan basa ing basa Indonesia yakuwe kalimat perumpamaan.

Tuladha :
Perangane awak :
  • Alise nanggal sepisan.
  • Bangkekane mawon kemit.
  • Brengose nglaler mencok.
  • Lambeyane mblarak sempal.
  • Tangane nggendhewa pinentang.
  • Pipine nduren sajuring.
  • Irunge ngundhup mlati.
  • Drijine mucuk eri.
  • Idepe tumengeng tawang.
  • Rambute ngembang bakung.
Kahanan lan solah bawa :
  • Antenge kaya penganten ditemukaken.
  • Kuning ngumpul padha kuning kaya podhang reraton.
  • Rukune kaya mimi lan mintuna.
  • Tandange kaya banteng ketaton.
  • Trengginas kaya sikatan nyamber walang.
Read More

Senin, 09 April 2018

Pengertian Prantacara, Paugeran, lan Pathokan-Pathokane

Dalam sebuah acara resmi atau formal pasti tidak terlepas dari peranan seorang pembawa acara. Pembawa acara berperan sangat penting dalam membawa dan menghubungkan bagian-bagian dalam suatu acara seehingga dapat terlaksana dengan baik dan sesuai yang diharapkan. Dalam kebudayaan Jawa, seorang pembawa acara bisa kita sebut dengan "Pranatacara" atau "Pranata Adicara". Mereka bertugas untuk mengatur jalannya seuatu acara dengan memakai bahasa (dalam hak ini adalah bahasa jawa yang baku) dan biasanya mereka menggunakan pakaian-pakaian adat Jawa, seperti blangkon,  beskap, keris, dan sebagainya.

Untuk kesempatan kali ini saya akan menjelaskan beberapa hal mengenai pranatacara, akan tetapi saya akan menyajikan materi ini dengan memakai bahasa Jawa. Berikut ini adalah penjelasannya.

Pengertian Pranatacara

Pranatacara yaiku satunggaling paraga ingkang nggadahi jejibahan nglantaraken titi laksana ing satunggaling upacara temanten, kesiprahan, resmi/formal, pepanggihan, pasamuan, pengajian, pentas, lan liya-liyane.

Misale wonten ing tata upacara adat temanten Jawi, pranatacara nduwe tugas nglantaraken titi laksaning adicara ijab, pawiwahan, begalan, lan penghargyan. Senadyan mekaten adicara ijab kadhang kala ngadheg piyambak mboten kagarba kaliyan adicara pawiwahan, begalan, lan panghargyan ing acara temanten. Ing upacara kasiprahan juru paniti laksana nglantaraken tata upacara pangrukti utawa pametaking layon.

Ingkang Perlu Digatosaken Pranatacara

Anggenipun dados pranatacara kudu nggatosaken punapa ingkang wonten ing tata cara pranatacara yakuwe :
  1. Pranatacara kuwe kudu saged nguasai : wiraga, wirasa, wicara, lan wirama.
  2. Jejibahaning pranatacara  lumrahe inggih prasaja.
  3. Kudu pinter-pinter ngaturaken acara satunggal baka satunggal menawi ing acara menapa kemawon. Tuladha : "Acara sepisan menika... Dhumateng Bapak/Ibu... sumangga. Lajeng ngaso riyin. Acara kaping kalih menika... Lajeng ngaso." Mekaten salajengipun ngaturaken acara satunggal baka setunggal kanthi rampung. Nalika para tamu ngunjuk, pranatacara inggih melu ngemum. Nalika para tamu saweg dhahar, pranatacara ugi ndherek nedha supados acaranipun saged mlampah ingkang urut, baku, lan prasaja.
Apa bedane Pranatacara karo Pranata Adicara?

Pranata adicara saged ngisi acara damel regeng ngrengenging swasana, mboten sepa, sepi, samun. Pranata adicara mboten badhe katelasan wicara serta perkawis ingkang kawedhar (materi/bahan) kangge ngisi swasana. Sanajan kedah 2-3 jam micara. Kajawi menika pranata adicara saged ngolah acara menapa kemawon, tanggap ing sasmita saha swasana, satemah saged damel putusaning adicara kanthi laras tur leres.

Paugeraning Pranatacara Adicara lan Pamedhar Sabda

Pranatacara ingkang asring dipunsebat  Master Of Ceremony (MC), pambiwara, pranata adicara, pranata titlaksana, pambyawara, utawa pranata laksitaning adicara, inggih punika paraga ingkang tinanggenah nata acara ingkang bakunipun, ayahanipun inggih punika nglanteraken cak-cakanipun acara wonten ing pepanggihan, pasamuan upacara ingkang sampun rinantam.

Pranatacara nyepeng peranan ingkang ageng, dados punjering kawigatosan, amargi regeng, rancak, nges lan mbotenipun satunggaling adicara seperangan ageng dados tanggel jawabipun pranatacara. Saksinteno kemawon para paraga ingkang magepokan kaliyan lampahing adicara utawa pawiwahan mboten saged tumindhak pyambak-piyambak menawi dereng wonten atur saking pranatacara.

Sakjatosipun, pakaryan pranatacara mekaten sanes satunggaling pakaryan ingkang awrat/angel, awit saksintena mawon priyantun ingkang mboten nandhang tuna wicara utawi ingkang kedaling lesan mboten cetho, tamtu saged nindakaken pakaryan pranatacara kasebat. Ananging ingkang kathah sami ajrih dhumateng tuna dungkaping basa.

Ananging babagan punika mboten ndadosaken pepalang, amargi basa mekaten kathah sanget pacopanipun, pramila satunggal lan sanesipun priyantun saged ngginakaken basa ingkang pundi kemawon, jer leres pikajengipun cak-cakanipun, saha gampil kasuraos dening saksintena ingkang sami midhangetaken.

Amrih jejibahan saged kasil kanthi sae, pranatacara saha pamedhar sabda kedah saged ngrengkuh sarat sarana ingkang baku, inggih punika :

1. Swara
Kedaling lathi kedah kagladhi, supados saged langkung cetha medaling swanten, pranatacara saha pamedhar sabda kedah saged mapanaken swanten ingkang awrat, cekapan, utawi inggih trep kaliyan swanten iringan gendhing.
Pangolahing swanten kedah wajar, cetha, tegas mboten ketawis sanget menawi kaolah. Ing babagan swanten menika, pranatacara kedah wigatos datheng swaraning aksara swara (ucapan), langkung-langkung beda-beda mingsad-mingsudipun ing tembung lingga saha tembung andhahan.

Wirama ugi kedah kagladhi kanthi saestu supados sekecar kamirengaken, kados pundhi rindhik rikatipun, mandhap minggahipun, sampun ngantos kasesa, ananging ugi sampun ngantos nglentrek sanget. Gladhi olah swara punika kedah pikantuk kawigatosan ingkang mirungga, amargi punika dados satunggaling sarat baku kagem pranatacara saha pamedhar sabda.

2. Busana utawi ageman
Ajining raga gumantung busana, mila babagan busana punika inggih kedah pun gladhi saengga jejibahan pranatacara saged kalaksanakaken kanthi sae. Anggenipun ngadi busana kedah kajumbuhna kaliyan keperluan womten ing upacara punapa ingkang badhe dipunayahi. Jejering pranatacara saged katingal ngrengreng menawi karengga swanten, raga lan busana ingkang pantes. Pangudinging busana saged ngetrepaken kaliyan rupa utawi wrananing busana kaliyan kulit, sareng make up, saengga katingal pantes kaliyan papan panggenan, mboten nyolok tuwin samadya kemawon.

Wonten ing babagan mangagem busana punika, saestu sae sabda pangandikan kanjeng shunan Pakubuwono IV ingkang sampun panjenenganipun kanjeng susuhunan sabdaaken dhumateng para sentana saha kerabat keraton kasunanan Surakarta Hadiningrat, inggih punika : “Nyandhang menganggo iku dadiya sarana hamemangun manungsa njaba njero, marmane pantesan panganggorina, trapna traping panggonan, chundukna marang kahananing badanira, wujud lan wernane jumbuhna kalawan dedeg piadeg miwah pakulitan.”

Pramila babagan busana menika kedah pun gladhi ingkang sesae-saenipun dening pranatacara, amrih sae kasilipun tumrap sadayanipun, lagkung sae ugi kagem para pranatacara ing sakderengipun ngayahi jejibahan dados pranatacara. Busana punika saenipun kedah dipunrembag kaliyan panitya, amrih hasil ingkang dipunkajadaken sae wontenipun.

3. Subasita (Trapsila)
Trapsila (tata krama) kedah pun gladhi ingkang sae, amargi trapsila ingkang kirang saged ngirangi kewibawanipun pranatacara. Solah bawa sampun ngantos kedamel-damel langkung sae bilih solah bawanipun prasaja kemawon, anteng, manteb ananging mboten kaku.

Ewah-ewahanipun pasuryan ugi kedah kaudi ingkang sedaya wau saged nggambaraken isine penggalih, ingkang lajeng jumbuh kaliyan swasana, sapertos, bilih wonten ing pawiwahan saha panghargyan, pasuryan binger sumringah lan ramah awit prastawa menika ngemu suraos suka, kabagyan, lan kebungahan. Wonten ing sripah, pasuryan kedah mboten katingal binger sumringah, amargi punika tamtu mboten jumbuh kaliyan swasana saha raos manah kaluwarga ingkang nembe nandang duka/bela sungkawa.

4. Basa lan Sastra
Basa lan sastra ngawujudaken kabetahan ingkang baku tumrapipun priyantun ingkang nembe ngayahi tugas dados pranatacara. Basa inkang kaginakaken kedah miturut tuntutaning sastra ingkang leres, pamilihing tembung ingkang lajeng dipunronce kados ukara trep, luwes,sae, wusana sekeca kepireng ing asanesipun.

Kanthi pangertosan ingkang sae, babagan basa lan sastra pranatacara saged ndapuk mocap,, tembung, ukara lan wacana kanthe laras tur leres.
  • Laras : pranatacara saged ngrantam utawa mbabar titilaksana sing trep kaliyan swasana.
  • Leres : pranatacara saged nggunakna basa sing trep kaliyan parasastranipun.
Baca juga : Teknik-teknik dadi pranatacara lan bahasa-bahasa sing biasa digunakake
Pathokan-pathokan supados pakaryan pranatacara pikanthuk hasil ingkang sae
  1. Ing babagan basa migunakake basa ingkang trapsila, wijang prasaja ananging gampil ketampi dening para tamu.
  2. Tanggap ing kawontenan supados panghargyan saged regeng.
  3. Mangertosi rantaman-rantaman badhe tumapaking adicara kanthi permati, serta kedah tanggap ing kawontenan.
  4. Mangertosi asma-asma para paraga ing saklebeting pawiwahan kanthi jangkep sak imbuhanipun.
  5. Tansah sesambetan kaliyan kadang pranata pita swara supados nyamektakaken gendhing-gendhing kang ngiringi lelampahaning adicara.
  6. Tansah sesambetan kaliyan poran paraning pawiwahan supados enggal magertosi mbok bilih wonten ewah-ewahan adicara.
  7. Trengginas mutusaken samukawis murih pawiwahan mboten katingal kisruh.
Dari beberapa materi di atas, kesimpulannya adalah Pranatacara merupakan seorang tokoh yang berkewajiban untuk mengatur dan melaksanakan bagian demi bagian suatu acara secara runtut dan sesuai dengan apa yang direncanakan. Selain itu, seorang Pranatacara harus berwibawa, sopan, santun, serta dapat mengatur dan menyesuaikan suasana yang sesuai dengan jenis acara yang dibawakan. Oleh karena itu, menjadi seorang Pranatacara tidaklah mudah karena selain harus fasih dalam berbahasa Jawa, ia juga harus melaksanakan berbagai tata cara, tata ucap, dan unggah-ungguh (etika) dalam kebudayaan masayrakat Jawa yang beragam jenisnya.
Read More

Jumat, 06 April 2018

Budaya Gugon Tuhon Bagi Masyarakat Jawa Khususnya Banyumas

Pangerten Gugon Tuhon

Gugon Tuhon menika salah satunggaling kabudayaan jawi kang wujud pitutur luhur lan panyuwarane mawi lisan, nanging bisa wujud menapa kemawon. Gugon tuhon kathah kang wujud pitutur para tiyang sepuh marang putra-putrinipun. Biasane ngandhut bab kepercayaan wong jawa marang sawenehing perkara kang mboten saged tinemu nenalar.

Tumrape wong jawa kang percaya utawa ngandel tansah duwe rasa was sumelang menawa ora bisa nyranani utawa nyembadani perkara kang dianggep mbebayani iku. Kathah ingkang nggadhahi pamanggih ingkang beda babagan gugon tuhon kemawon wujudipun werna-werna.

Jenising gugon tuhon ugi mboten namung satunggal, bisa saged wujud tembang, parikan, geguritan, lan ugi pitutur-pitutur kemawon. Wonten ing masyarakat jawa nyawisaken bilih etika dipundadosaken salah satunggaling tonggak menawi tiyang jawi saged dipunwastani wong jawa ingkang satuhu utawi tenan wong jawa. Ingkang dados tandha bilih wong jawa mangertosi punapa babagan etika jawa. Wujude etika menika salah satunggaling kabudayaan ingkang sampun dipunajaraken dhumateng anak putu mawi cara punapa kemawon, yaiku saged wujud cerita, peninggalan, tembang, lan lia-liane. Nah kangge paring wulangan babagan etika jawa kuwi para tiyang sepuh ngagem gugon tuhon sebagai perantarane.

Gugon tuhon ingkang asring dipunsebat pamali niki yakuwe dipunturunaken saking tiyang sepuh marang putra-putrine utawa saking para guru marang para murid-muride. Gugon tuhon iku wujud pitutur kang mboten pantes menawi dipunlakoni wonten ing gesang bebrayan, ugi saged dadosaken cilaka dhumateng sinten mawon kang nglanggar wewarah saking pitutur gugon tuhon menika. Awit saking menika para putra kedah nyingkiri punapa ingkang sampun diparengaken wonten ing gugon tuhon menika, nggih kadang ugi mboten saged dipunnalar pikiran dheweke.

Gugon tuhon utawi wewarah menika kathah ingkang dipunparingaken dhumateng para putra mawi langsung lisan utawi pitutur kemawon, saged awujud cerita, legenda, tembang, ugi punapa kemawon. Meski kathah cariyos utawi pitutur ingkang mboten masuk akal, nanging menika salah satunggaling wuujud kearifan lokal ingkang perlu dipunlestarikaken.

Dene tembung gugon tuhon asale saka tembung Gugu, dene Tuhon asale saka tembung Tuhu. Bilih gugon tuhon menika kedah disingkiri kanthi satuhu. Sinten mawon ingkang mboten sarujuk kaliyan wewarah menika, bakalan saged nemu cilaka. Katha sanget wonten ing masyarakat jawi menika ingkang gunanipun kagem cariyos pitutur babagan etika tiyang jawi wonten ing gesang bebrayan.

Jenising Gugon Tuhon

Gugon tuhon diperang dadi 3, yaiku Gugon Tuhon Salugu, Gugon Tuhon Isi Wasita Sinandi, lan Gugon Tuhon Klebu Wewaler.

a. Gugon Tuhon Salugu
Bocah utawa kang dadi paragane Bathara Kala. Manut cerita dongeng yaiku bocah sukerta, lan manut kepercayaan biasane waluya lan lestari uripe. Kudu diruwat saran yakuwe ditanggapake wayang lakon “Amurwa Kala”.

b. Gugon Tuhon Isi Wasita Sinandi
Pitutur kang ora dilairake kanthi melok utawa dikandhakake kanthi semestine. Sing akeh nganggo tembung ora ilok, kang satemene ora becik.

Tuladha :
  1. “Aja ngidoni sumur, mundhak suwing lambene”. Tegese ido (liur) kang tiba ing sumur bisa njalari regede banyu, luwih-luwih idone wong kang duwe penyakit menular.
  2. “Aja nglungguhi bantal, mundhak wudunen”. Bantal kuwi kangge alas sirah, umpamane digawe alas bok*ng mesthi saru utawa ora becik.
c. Gugon Tuhon Klebu Wewaler

Yaiku kalebu wewaler saka sabdane utawa pangandhikane luluhur/wong kang dadi bakal ing babagan iku.

Tuladha : Wong ing Banyumas ora kena lunga dina Setu Paing. Wong-wong ing Banyumas manggih cilaka nalika tindhakan ing dina Setu Paing.

Wonten kathah wujudipun gugon tuhon, salah satunggaling wujud cariyos gugon tuhon masyarakat ingkang mboten pareng tindhakan mawi Setu Paing. Gugon tuhon menika saking Adipati Banyumas ingkang kalah wonten ing perang pajang ing dinten Setu Paing. Wonten ing tradisi Jawa, bilih sedanipun leluhur menika dados dinten sangaran utawi kedah dipunsingkiri kagem ngawontenaken hajat punapa kemawon. Bilih sakderengipun Adipati Banyumas seda, panjenenganipun pareng wewaler yaiku “ora kena lunga ing dina Setu Paing lan ora kena mangan daging angsa. Wewaler menika yakuwe salah satunggaling gugon tuhon ingkang digugu dening masyarakat Banyumas ngantos dinten menika.
Read More